Monday, April 25, 2011

Gara-Gara Ketapel

Cerita ini sudah cukup lama berlalu. Saya sudah lupa tepatnya kapan. Saat itu saya lagi dirumah (rumah saya berjarak 600 km lebih dari tempat saya tinggal saat ini, saat saya membuat tulisan ini). Dirumah sedang ada tukang kayu yang lagi benerin dinding. Rumah saya di desa dan dindingnya dari papan. Tiba-tiba adik saya yang bungsu menghampiri, merengek-rengek dan heboh minta dibikinin Plintheng (bahasa Indonesianya: ketapel). Ya Plintheng atau ketapel adalah senjata pelontar yang mungkin sudah berusia ribuan tahun namun tetap eksis sampai sekarang. Bahkan anak-anak dan remaja Palestina masih menggunakan senjata sederhana ini melawan tank-tank tempur Israel yang canggih. Saya berpikir jangan-jangan adik saya minta ketapel karena terinspirasi film-film intifadha yang saya kasih lihat. Subhanallah adik saya ingin menjadi mujahid. Itu cuma khayalan saya karena sebenarnya dia pengen ketapel buat mlintheng (saya ga ketemu kosakata yang tepat dalam bahasa Indonesia) burung. Bagi yang belum tahu ketapel ini lho
Demi cinta saya padanya sayapun menyanggupi membuatkan ketapel itu. Yang pertama adalah mencari kayu sebagai bahan utama dari senjata ini. Ada dua pilihan yaitu mencari dahan pohon yang secara alami berbentuk huruf Y atau memahat/memotong kayu batangan menjadi seperti huruf Y. Saya menyebutnya ketapel alami dan ketapel buatan #ngasal. Dan karena sudah niat sejak lama adik saya bilang dia sudah ndedeki (baca:ngetake atau ngetag) sebuah dahan di pohon deket kali untuk dijadikan ketapel. Sayapun diajak memeriksa dahan yang dia yakini cocok buat ketapel itu. Entah kenapa dalam perjalanan ke lokasi saya sudah geli sendiri, saya senyum-senyum sendiri. Saya merasa dejavu karena rasanya waktu kecil saya pernah melakukan hal yang sama, merengek minta dibikinin ketapel sama Bapak, ngajak Bapak ke sebuah pohon yang saya yakini salah satu dahannya cocok buat ketapel tapi hasilnya sampai TKP Bapak saya tertawa ngakak. Kali inipun begitu, tepat seperti dugaan saya, kayu yang ditag adik saya itu sama sekali jauh dari bentuk huruf Y, bentuknya lebih mirip huruf L itupun secara ukuran dahannya ga seimbang, salah 1nya kecil. Saya ngakak guling-guling #lebay.


Kami pulang kembali ke rumah. Kebetulan ada tukang kayu maka ada peralatan lengkap untuk memotong dan mendesain sebuah ketapel. Saya akhirnya memilih kayu batangan yang bagus dan saya potong sedemikian rupa menjjadi balon (bakal calon) ketapel. Tak memakan waktu lama kayu balon ketapel itu jadilah. Maka kita sampai pada kebutuhan selanjutnya untuk sebuah ketapel yaitu karet pelontar. Ada dua pilihan juga dalam hal ini. Untuk orang dewasa biasanya karet pelontar dibikin dari potongan ban dalam bekas, tentu saja dengan karet pelontar jenis ini anak kecil ga sanggup menariknya. Untuk anak kecil kita biasa memakai karet yang dipakai untuk katup ban sepeda model lama yang populer kami sebut pentil #hati-hati bacanya gan. Ternyata karena memang sudah niat adik saya sudah menyiapakan 4 pentil #sekali lagi bacanya gan tolong.. Jadi 2 pentil untuk masing-masing sisi. Selesai memasang  pentil kita butuh perangkat terakhir yaitu sebuah kelep untuk menahan peluru sebelum dilontar. Dalam hal ini adik sayapun ternyata sudah menyiapkannya. Kali ini dia membuat saya ngakak lagi. Yang dia siapkan cuma sesobek kain bekas yang ditarik dikit saja akan mbrodol (baca:terburai). Padahal yang kita butuhkan adalah kelep berbahan dari kulit sintetis atau kulit beneran biar kuat dan tahan lama. Akirnya bapak saya memotong salah satu sisi sepatu bekas dan ketapel itu maka jadilah. Senang rasanya.


Saat itu adik saya sumringah bukan main. Dia memang tipikal gigih dan suka sesuatu yang baru. Buktinya untuk ketapel inipun dia sudah menyiapkan segalanya meski akhirnya yang terpakai cuma pentilnya. Di kemudian hari dia juga minta dibikinin layangan (akan saya buat cerita sendiri nanti). Seperti halnya anak kecil benda baru bernama ketapel itu benar-benar menggairahkannya. Diapun pamit dolan untuk mencari burung. Padahal sebenarnya mau mamerin ketapel barunya itu ke kawan-kawan sebayanya.  :)


Dua hari berikutnya adik saya benar-benar  menikmati kesenangan dengan ketapelnya itu. Begitu pulang sekolah langsung raib entah kemana. Nti agak sore baru pulang dengan rambut kering dan tubuh dekil sisa kebakar matahari. Mungkin dia memang mencari burung di pekarangan atau di ladang atau bahkan ke hutan.
Pada hari ketiga tiba-tiba adik saya sakit, badannya demam dan matanya sayu. Saya benar-benar sedih melihatnya, apalagi ibu. Bapak berpesan agar sorenya saya membawa ke dokter. Karena dasarnya hiperaktif saat sakitpun adik saya tidak banyak mengeluh atau manja. Dia cenderung diam namun suka diajak ngobrol. Terjadilah percakapan saya dengan dia yang kira-kira dalam bahasa Indonesia jadi begini:
"Kamu kemarin ngetapel sapinya kang Sarpiyo kali makanya sakit" ngetapel=mlintheng.. nah lo
"Engga..." Wajahnya agak terkejut
"Halah ngaku aja kamu ngetapel sapinya kang Sarpiyo kan"
"Engga kok"
"Beneran engga? jangan bohong sama mas!"
"Orang ga kena kok"
"Huahahahahahahahaha" saya ketawa ngakak denger jawabannya itu. Jadi bukan "engga ngetapel" tapi "engga kena"
Niat saya menggoda malah dapat pengakuan yang sebenarnya. Padahal tuduhan itu juga cuma saya buat-buat. Kang Sarpiyo adalah tetangga depan rumah saya yang saat itu memiliki 2 sapi. Sejak hari itu adik saya jarang sekali maen-maen ketapel lagi. 

No comments:

Post a Comment